Tarombo Bercerita (3)

Seperti dijelaskan didepan tadi Bahwa keturunan Tuan Sorba Dibanua dari isterinya Nai Anting malela (boru Pasaribu) yang tinggal di Lobu Parserahan Lumban Gorat Balige masing masing meninggalkan kampung halaman mereka:Selain Si Bagot Ni Pohan  yang tetap berdomisili di Balige maka keempat adik-adik  si Bagot nipohan masing-masing mencari wilayah baru seperti berikut:

Sipaet Tua ke Laguboti dari sana kemudian keturunannya mencari wilayah lain, keturunannya seperti :

  • Hutahaean,
  • Aruan,
  • Hutadjulu,
  • Sibarani,
  • Sibuea,
  • Pangaribuan dan
  • marga Hutape dan yang lain lahir dari marga marga tersebut diatas

Sedang Silahi Sabungan bertempat tinggal di Silalahi,dan dari sana keturunannya  menyebar kewilayah lain.Dan ada delapan Anak Keturunan Silahisabungan dari 2 istri yakni :

Istri Pertama, Pingganmatio Padangbatanghari, anaknya : 1.Loho Raja (Sihaloho) 2.Tungkir Raja (Situngkir) 3.Sondi Raja (Rumasondi) 4.Butar Raja (Sidabutar) 5.Debang Raja (Sidebang) 6.Bariba Raja (Sidabariba) 7.Batu Raja (Pintubatu)

Istri Kedua,Sinailing Nairasaon, anaknya : 8. Tambun Raja Alias Raja Itano Alias Raja Tambun (Tambun,Tambunan,Daulay)

Selain marga pokok di atas masih ada lagi marga marga cabang keturunan Silahisabungan, yakni :

 

  • Raja Sondi ( yaitu Silalahi yang ada di Hinalang),
  • Si Nagiro,
  • SiHaloho,
  • Raja Tambun (Tambun Marbun,TambunMuliadan Tambun Dolok Saribu), Tambunan,
  • Situngkir,
  • Sinabung,
  • Simbiring,
  • Naiborhu,
  • Sinurat,
  • Nadapdap,
  • Sipangkar,
  • Sipayung,
  • Daulay.
  • dan Sinaga Silalahi dan banyak lagi marga lain

SiRaja Oloan berdomidili di Bakkara dan dari sanapenyebarannya ketempat lain dan  mempunyai 6 (enam) orang putera, yaitu:

  1. Naibaho, yang merupakan cikal-bakal marga Naibaho dan cabang-cabangnya
  2. Sigodang Ulu, yang merupakan cikal-bakal marga Sihotang dan cabang-cabangnya
  3. Bakara, yang merupakan cikal-bakal marga Bakara
  4. Sinambela, yang merupakan cikal-bakal marga Sinambela
  5. Sihite, yang merupakan cikal-bakl marga Sihite
  6. Manullang, yang merupakan cikal-bakal marga Manullang

Tentang Raja Huta Lima, berdasarkan cerita versi awal tadi (Tarombo bercerita 2) telah meninggal, tetapi versi lain Raja huta lima masih hidup;

Kisahnya Si Raja Hutalima sbb:

Setelah kelima anak Nai Anting malela dewasa, Raja Huta Lima berniat untuk merantau ke dairi di Dairi dia diterima Raja Sagala yang kemudian diangkat menjadi menantu, setelah sembilan bulan  isterinya boru Sagala Mengandung, sudah hampir lebih sembilan bulan isterinya tidak juga melahirkan. Maka Pada suatu hari dia menghadap mertuanya dan mengutarkan apa yang ada didalam hatinya;

“ Wahai Bapa mertua aku sungguh heran sudah lebih sembilan bulan isteruku belum juga menunjukkan tanda-tanda mau melahirkan, saya sudah mengatakan kepada boruma agar aku pulang dulu kekampung halamanku menemui orang tua dan abang-abangku untuk menanyakan apa yang menyebabkan tertundanya isteriku  melahirkan jangan-jangan  ada penghalangnya.”

Siraja Sagala sang mertua menjawab niat si Raja Hutalima

“Oo menantuku memang kalau itu maksudmu sangat baiklah,aku memberi restu pada kau untuk pulang kekampung halamanmu menemui  orang tua dan saudara-saudaramu, baik baiklah kau bicara dengan keluargamu dikampung .

Setelah mendapat restu dari mertua dan isterinya maka siRaja Hutalimapun berangkat, sesampai di Balige  sangat lah senang hati orang tuanya Tuan Sorba  Di banua serta abang-abangnya.

Suatu hari berniatlah Tuan Sorba Di Banua mengadakan permainan perang-perangan antara kedelapan anak anaknya (keturan Nai Anting malela dengan keturunan Sibasopaet),permainanpu dilaksanakan (Lih, Tarombo bercerita ke 2).

Kita lanjutkan kisah isteri si Raja Huta lima yang ditinggalkannya di Dairi:

Isterinya yang ditinggalkan pun telah melahirkan seorang anak laki-laki, namun si Raja Hutalima tidak datang-datang juga dari Balige alangkah gelisahnya sang isteri dan sang mertua. Sang anakpun sudah mulai besar dan sudah dapt berjalan-jalan bahkan main main dengan teman-temannya, namun siraja hutalima tidak juga pulang . Mereka isteri dan Mertua tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi terhadap si Raja Hutalima di Balige.

Menurut kebiasaan atau adat batak kalau sianak sudah bisa berjalan dan bahkan bermain sudah selayaknya si anak di beri nama, tetapi yang lebi pantas meberikan nama tersebut adalah bapak si anak.

Setelah menungg sekian lama si Raja Huta liama tidak kunjung datang juga maka  si anakpu di beri nama “Juara Parliman”. Kemudian setelah Juara Parliman dewasa maka dikawinkanlah dia  dengan boru tulangnya marga Sagala dengan upacara adat.

Setelah tiba waktunya isteri si Juara Parlimanpun melahirkan anak, seterusnya si Juara Parliman mempunyai tiga keturunan (anak):

  • Anak pertama bernama
  • Si Maha anak
  • kedua Mardosi, dan anak
  • ketiga si Sambo

serta satu anak perempuan.

Tetapi terjadi suatu kejadian setelah anaknya perempuan dewasa dia didatangi mahluk gaib (begu so begu jolma so jolma) dan melarikan nya, Hingga kini peristiwa terhadap anak perempuan siJuara Parliman manjadi sisembahan di tanah Dairi.

 

Bersambung Tarombo bercerita    (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s