Kerajaan Arsipelago (Bagian Sunda-Galuh) Bagian II-selesai)

 

krj kerajaan tarumanegara


Pada abad-abad pertengahan, sekitar abad 12-13, pada jaman satu dinasti, seorang raja wafat muda. Putra Mahkota yang dipersiapkan masih balita. Maka kerajaan dilaksanakan oleh kakaknya, seorang panglima perang. Pada jaman itu, agama yang dianut oleh bangsa China adalah agama leluhur. Agama yang datang dari luar masih diawasi dan belum diterima oleh kalangan kerajaan. Buddha hanya diperkenankan di kuil-kuil. Sedangkan pemeluk agama Islam (dalam hal ini muslim) adalah para nomaden seperti halnya bangsa Mongolia (Jenghis Khan).

Raja pengganti memang berperilaku bijak. Dia seorang muslim bersama keluarganya dan sejumlah panglima bawahannya, namun tetap disembunyikan demi menjaga adat-istiadat kerajaan. Itulah mungkin sifat liberalisme sebagai seorang muslim. Diperkirakan kemusliman sang raja adalah karena tugas nya sebagai panglima yang sering berhubungan dengan kaum nomaden yang diawasinya atau akibat perjalanannya dalam mengikuti jalur sutra sampai ke Mekah. Tidak lama kemudian, sang raja wafat. Putra Mahkota belum juga cukup umur, sehingga tahta kerajaan dipegang sementara oleh anak laki-lakinya yang juga muslim. Seperti ayahnya, dia pun memerintah dengan bijak, walau masih sangat muda. Sampai pada waktunya, tahta diserahkan kepada Putra Mahkota.

Sang mantan raja pindah ke istana sayap kanan, yang masih satu lokasi dan berhubungan dengan bangunan istana utama tempat raja. Kebijakan dan kejujuran mantan raja (terbukti dengan menyerahkan tahtanya kepada yang berhak) membuat banyak petinggi istana merasa dirugikan dan iri-hati, serta takut suatu waktu diminta kembali membantu sang raja muda. Kasak-kusuk para petinggi istana yang dengki dimulai dengan hasutan bahaya akan kudeta. Raja muda terpengaruh, dan merencanakan untuk menyingkirkan mantan raja. Sejumlah petinggi istana yang masih setia menyampaikan ancaman tersebut. Mantan raja merasa kuat dan mampu melawan, namun merebut tahta dari sepupunya bukan hal yang terpuji, juga bukan haknya menjadi raja. Dia memilih menghindar dan mempersiapkan pelarian dengan segera.

Dengan sekitar 1000 armada perahunya mantan raja keluar dari wilayah kerajaan. Kepergiannya tidak membuat raja muda tenang, hasutan para petinggi kerajaan yang keji, raja berencana melenyapkannya. Maka mulailah menyusun rencana pengejaran setelah tahu bahwa mantan raja lari ke arah tenggara ke kepulauan yang menjanjikan bisa hidup abadi, Pulau Jawa. Pada jaman itu, tidak lah mudah mengetahui keberadaan pasti dimana mantan raja sebenarnya. Namun menghubungkan bahwa Kerajaan Sunda yang campuran etnis arsipelago Asia Selatan memungkinkan kecenderungan warna kulit yang lebih gelap dibanding masyarakat Jawa bagian Barat seperti saat ini. Ada kemungkinan bahwa mantan raja China bergabung menjadi warja Kerajaan Sunda-Galuh adalah mungkin. Apalagi bila dikaitkan dengan budaya pertanian dan kelogaman yang ada di pulau Jawa.
Banyak pendapat secara spiritual, bahwa Kerajaan Sunda sudah memeluk agama Islam (agama langit) atau yang disebut juga sebagai agama Sunda (agama langit dan agama bumi) sejak lama. Apa lagi Bandar Banten dan Sunda Kalapa sejak abad 10 sudah menjadi pusat perdagangan terbesar Asia Tenggara. Tidak sulit untuk Pajajaran menerima agama langit apa pun karena agama Hindu (agama bumi) yang lebih tua pun berdasarkan kepada Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Esa. Bahkan Sriwijaya dan Jambi, bawahan Kerajaan Sunda, pada awal abad 11, sebagai Kerajaan Buddha sudah ditaklukkan oleh Kerajaan Malaka dan kerajaan daratan Asia lainnya (Kamboja dan Vietnam) yang muslim. Sulit bagi bangsa ini menerima bahwa India dan China adalah memiliki andil dalam percampuran bangsa-bangsa di Nusantara. Kembali ke raja China.

Raja mengirimkan seorang laksamana dengan lebih dari 400 armada kapalnya lengkap, mengemban tugas menghancurkan mantan raja dan pengikutnya. Namun laksamana pun menghilang. Laksamana kedua pun ditugaskan kembali. Bahkan secara periodik terus menerus juga oleh raja penggantinya, sampai tujuh (7) laksamana yang dikirimkan sampai akhirnya raja tahu bahwa ke tujuh laksamana tersebut adalah yang loyal kepada mantan raja. Mereka semuanya muslim. Akhirnya dipilihlah laksamana ke delapan, dengan 1.700 armada lautnya, berhasil dan memberi khabar kepada kerajaan China. Sampai disana ceritanya, tidak kelanjutan bahwa mantan raja, pengikut dan turunannya pernah ditemukan, namun seolah pulau Jawa menjadi lahan baru bagi perdagangan kerajaan China.

Seandainya dihubungkan dengan kelanjutan “dongeng” Kerajaan Sunda serta tulisan yang dibuat oleh para sastrawan yang berasal dari legenda atau mitos dalam bentuk kidung. Cerita “Saur Sepuh” yang pernah ditayangkan oleh sebuah radio swasta di bandung di era akhir 1970 dan awal 1980an, serta difilmkan di sebuat TV, bahwa laksamana China mendapat kesulitan saat menyerang Hayam Wuruk. Maka diserang lah kerajaan bawahannya, raja Bali. Setelah menaklukan dan mempelajari budaya dan bahasa, pasukan China menyamar menjadi penduduk lokal untuk menundukan Majapahit. Laksamana mengangkat diri menjadi patih dengan menempatkan figur raja agar kerajaan di sekitarnya tidak curiga dan mudah ditundukkan. Berkenaan dengan Perang Bubat, bahwa karena Hayam Wuruk masih keturunan Kerajaan Sunda-Galuh, dia sudah dijodohkan dengan Dyah Pitaloka dari Pajajaran. Hal yang mengherankan, pada waktunya dia tidak datang melamar, malahan meminta pengantin wanita datang. Pajajaran mengalah, mengantar pengantin wanita dengan pengawalan secukupnya, dengan syarat dijemput di sebuah tempat sehingga secara adat pengantin pria datang melamar. Tempat itu adalah Bubat (saat itu pantai Bubat). Namun kejadiannya rombongan malahan diserang dan dihancurkan. Menurut legenda pembantaian tersebut menyebabkan hujan darah di Pajajaran. Hal ini lah yang kemudian membuat perintah para dewan penasehat dan hakim kerajaan, bahwa tabu bagi turunan Pajajaran menikah dengan turunan Majapahit.

Semangat untuk menemukan mantan raja China menyebabkan sang patih bersumpah untuk menaklukan seluruh kerajaan di Nusantara (Sumpah Palapa??) dan mulai dengan merebut kerajaan di Nusa Tenggara.

Waktu berlalu, jalur yang harus ditempuh sampai ke Pajajaran tidak tercapai juga akibat banya rintangan sepanjang Pulau Jawa, mulai Gresik sampai Cirebon. Mungkin kah hambatan pemeluk Islam yang dikenal sebagai tujuh dari Wali Songo? Apakah ketujuh wali tersebut sebenarnya adalah para laksamana (Cheng Ho dan sebagainya)? Pelajaran di Sekolah Dasar menyebutkan bahwa tujuh dari Wali Songo berbangsa China, lainnya Gujarat (Falatehan) dan keturunan Pajajaran dan Yaman (Syarief Hidayatullah).

Dalam catatan sejarah, Majapahit masih berdiri setelah Hayam Wuruk  sampai akhirnya harus hancur di akhir abad 15 akibat perebutan kekuasaan di antara keluarga kerajaan Majapahit.

peta taruma

Beberapa catatan cerita rakyat, sebelum menjadi Tarumanegara, Salakanagara adalah Arsipelago Sunda, satu dari tujuh arsipelago dunia yang berupa ke-imperium-an yang melingkupi wilayah dari India sampai ke kepulauan Filifina. Seperti yang dijumpai dari catatan ilmuwan India tentang keberadaan Kerajaan Hindu Dwipantara (Jawadwipa) sekitar 200SM, 550 tahun sebelum Tarumanagara, yang juga menguasai Sumatera dan Jawa.

Kata sunda sendiri bisa diartikan sebagai sun (matahari) dan da (dewa) dalam bahasa sansekerta. Jadi sunda bukan lah etnis Jawa Barat seperti yang dikenal sekarang. Berbagai suku bangsa yang kemudian tinggal di wilayah kerajaan Sunda, seperti yang disebutkan pada bagian sebelumnya, ada dari India, China, Arab, Indonesia bagian Timur, bahkan mungkin Yahudi, kemudian disebut sebagai masyarakat pa-sunda-an atau Pasundan.

Sunda adalah sistem (berdasarkan beberapa tulisan di Eropa, hanya saya lupa persis referensinya, hanya ingat demikian), sama dengan budaya yang digunakan oleh bangsa Yunani kuna (Romawi), atau oleh bangsa Inca, bangsa Mesir, Persia (Aria) atau dua imperium lainnya (mungkin China dan Eithopia) yang dimiliki oleh bangsa-bangsa besar kuna di dunia yang berbasis pada Dewa Matahari, atau hidup bukan dalam kegelapan. Boleh jadi bangsa Jepang bukan termasuk ke dalam ke-imperium-an sunda, mungkin hanya bagian atau menjiplak saja. Ke-imperium-an Sunda Arsipelago bisa jadi sengaja dihilangkan oleh bangsa Eropa yang tidak termasuk imperium, karena mereka lebih lama tertindas oleh Romawi. Bisa jadi pula bangsa Jerman ingin berkuasa pada awal abad 20 sebagai imperium dengan mengaku-ngaku bangsa Aria.

Bahkan tentang Pajajaran yang belum lama hilang, dimana bangsa Eropa memiliki data lebih banyak, ilmuwan Indonesia juga hanya berpendapat itu semua adalah Legenda dan mitos semata. Tidak ditemukan bukti adanya keraton yang menjadi aikon kerajaan. Sedang peninggalan prasasti batu tulis, reruntuhan candi-candi dan sisa-sisa fondasi banguanan kuna yang besar pun hanya merupakan peninggalan bekas bangunan saja.

Menyimak kidung yang masih sering terdengar, kebanyakan bangunan bekas Kerajaan Sunda adalah terbuat dari kayu keras. Ini dijumpai pada peninggalan yang lebih baru dari abad 18 dan 19, walau pada abad 17 Belanda telah membangun bangunan batu atau beton kuna. Sistem pusat pemerintahan yang bergantian pun mengindikasikan bahwa ada perdamaian dan persatuan dari gabungan kerajaan-kerajaan dalam kerajaan Sunda-Galuh atau Tarumanegara atau Salakanagara. Perkawinan antara angota kerajaan juga mengindikasikan pembauran untuk tetap menjaga kesatuan, mulai dari Jawa Campa, Jawa Sumatera, Jawa Singapur bahkan dengan China. Pembauran seperti halnya penduduk aseli Sumatera bagian Utara sehingga menjadi nama Aceh (Arab, China, Eropa dan Hindia).

Dalam sistem pemerintahan misalnya, tidak ada raja yang bernama Prabu Siliwangi. Siapakah Prabu Siliwangi? Siliwangi digambarkan sebagai harimau loreng putih. Hanya ada dua kemungkina, bahwa itu adalah harimau putih India atau harimau putih ghaib yang dikenal oleh masyarakat Galuh dengan nama ONOM. Siliwangi bukanlah artian kata silih wangi (saling mewangikan) atau kata sastrawan China lokal sebagai Sie Lie Wang Ie, yang juga artinya tidak dimengerti oleh orang China daratan.

Dalam tatanan pemerintahan Kerajaan Sunda, ada kecenderungan pemerintahan dikendalikan oleh perwakilan rakyat yang diartikan sebagai perwakilan kedaulatan rakyat, dimana yang berdaulat adalah para raja. Pada masa-masa tertentu, tidak setiap raja adalah sakti atau mampu menjadi panglima perang. Ada raja yang hanya raja resi (pendiri Kerjaan Kendan) atau mungkin ada raja yang arif bijaksana dan adil.

Di antara raja-raja kemudian memilih seorang maharaja. Seorang maharaja adalah raja yang memiliki kewenagan penuh, sebagai bapak yang welas asih dan boleh otoriter. Dia adalah seorang panglima perang yang sakti disebut Mundinglaya dan berhak menyandang gelar Prabu Siliwangi, siapa pun namanya aselinya, yang berhak atas peliharaan ghaib sejumlah harimau putih. Tidak lah kemudian mengherankan, apabila pusat pemerintahan ada di kerajaan terpilih. Ini bukan berarti mitos kalau setiap daerah bisa menyebutkan turunan Prabu Siliwangi. Pada rembukan antara raja pun dipilih ketua Mungdingwangi, yang bergelas maharesi, mengepalai sejumlah rajaresi (kalau dia raja) dan resi (kalau dia Brahmana).

Di kelompok ini harus selalu bisa memberi ajaran agar rakyat berbuat kebaikan. Itu ditandai saat terjadi pertengkaran atara Prabu Siliwangi dari galuh dengan Raja Kerajaan Sunda, yang kemudian ditengahi. Pada kekuasaan raja yang mutlak, sulit rasanya menerima seorang Prabu menurut apa keputusan penasehat, Selain Mundinglaya dan Mundingwangi ada Mundingsari yang dipilih bukan karena kesaktian dan sifat ulamanya melainkan dia cerdik, bijaksana dan mampu berbuat adil. Dia membuat undang-undang dan mampu memutuskan suatu perkara. Sifat yang sebenarnya tampak pada masyarakat kuna pada hari ini dan bertindak sebagai Tetua Adat…

Namun ini semua masih seperti pada judulnya, sementara hanya sebuah “dongeng”, tetapi bukan untuk menina-bobokan, tetapi malah membuat mata dan hati menjadi melek, bahwa bangsa ini pada jaman dahulu pernah memiliki budaya tinggi dengan sistem pemerintahannya yang mampu bertahan sangat lama, sebagai imperium yang cukup luas wilayahnya. Tetapi ada sisi buruknya yang selalu bisa saling mencaka, mudah diadu-dombakan dan gampang diperdayai oleh mulut manis atau janji angin surga…. Mungkin karena darahnya gabungan berbagai bangsa ya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s