Ki Heru Wiryono MH, Pemahat Patung-patung Monumental di Sumut

Patung Jenderal Ahmad Yani setinggi 11 meter berdiri gagah di persimpangan Jalan Imam Bonjol-Jalan Jenderal Sudirman, Medan. Wajahnya pejuang revolusi itu menoleh ke kiri, sementara tangan kanannya menunjuk ke arah kanan. Apa maknanya? Ki Heru Wiryono MH sebagai pematung, pasti punya jawabannya.

Kediaman Ki Heru Wiryono MH di Jalan Polonia No 36 Medan. Kini umur beliau  77 tahun yang memiliki nama kebesaran Sekar Gunung.

 Pria yang pernah mengenyam pendidikan langsung bersama Ki Hajar Dewantara dalam kurun 1952-1955 itu mulai berbincang. Pria yang lahir pada 22 Februari 1934 itu berasal dari Gunung Kidul. Dia hijrah ke Kota Medan tahun 1957, setelah menyelesaikan sekolah di Taman Siswa. Dia berniat, mengajar di sekolah Taman Siswa yang ada di Medan untuk mengisi posisi guru seni yang sangat minim. Di Medan, Sekar Gunung menetap di Jalan Polonia hingga sekarang

Mengapa sampai punya nama Sekar Gunung? Menurutnya, Sekar Gunung yang berarti Bunga Gunung itu sendiri merupakan nama salah satu karya seninya. Nama karya seni itu lama kelamaan melekat di dirinya sebagai nama seni, sehingga banyak yang memanggilnya dengan nama itu. “Kalau nama sehari-hari tetap menggunakan nama Ki Heru Wiryono MH,” jelasnya.

 

PENGALAMAN batin lain yang membekas dalam pada dirinya adalah saat ia mendapat pesanan patung Raja Sonakmalela di Balige.


Persoalan pertama yang dihadapinya adalah, tidak ada gambar apalagi foto Raja Sonakmalela. Sementara, tidak seorang pun dapat menggambarkan seperti apa wajah raja yang merupakan leluhur dari marga Marpaung, Simangunsong, Napitupulu, dan Pardede itu.


Ki Heru pun lalu mengumpulkan tetua dari keempat marga tersebut, dan berdiskusi tentang karakter, kebiasaan, dan sifat-sifat leluhurnya itu.
Setelah itu, ia memperhatikan wajah para tetua marga di Balige tersebut. Dari profil mereka, dia lalu meramu satu karakter wajah. Ketika karakter ramuannya tersebut disodorkan kepada para tetua marga, mereka puas dan langsung menyetujui. Jadilah gambar bentuk fisik Raja Sonakmalela.
Pendekatannya, tidak hanya sampai di situ. Ia juga harus menyesuaikan diri dengan budaya dan adat setempat yang menganggap tempat pembuatan monumen tersebut angker. Untuk itu, ia harus seolah-olah berbicara dengan makhluk halus yang tinggal di situ.

“Sampai-sampai saya dianggap paranormal orang masyarakat setempat,” katanya.


Ketika patung Raja Sonakmalela itu jadi, akhirnya tempat itu bahkan jadi tempat untuk berobat. Air dari mata airnya dianggap dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Padahal, sebenarnya itu bukan mata air sungguhan, tetapi mata air buatan yang harus selalu diisi oleh juru kunci jika airnya telah habis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s