Peran Zending dalam Perang Toba (5)

Setelah kami bekerja dengan tenang selama beberapa minggu musuh kita yang jahat bergerak lagi. Kami dikabari Tuan Residen adanya 40 ulubalang (laskar) asal Aceh dari Singkel menuju ke sini, dan supaya kami waspada. Beberapa minggu yang lalu raja imam Batak52 datang ke Lobu Siregar melarang penduduk menampung para zendeling dan menyuruh mereka mengusir kami dari Bahal Batu dan dari Silindung karena masa kekafiran akan berakhir kalau mereka menjadi Kristen. Mulai saat itu orang Lobu Siregar menunjukkan sikap bermusuhan.

Kala itu Singamangaraja [198] telah diam-diam menjalin perjanjian dengan raja Lobu Siregar yang memanggil ulubalang, dan sekarang nyata bahwa dialah biang keladi kerusuhan.

Desas-desus makin menjadi. Tanggal 17 Desember kami menerima surat dari Silindung bahwa para ulubalang sudah tiba di Bangkara yang berjarak hanya satu hari jalan kaki dari sini, dan kami disuruh untuk segera berangkat. Maka kami berangkat setelah membungkus pakaian dan pos zending kami serahkan kepada raja tua. Sedang di perjalanan kami dapat surat dari Silindung supaya untuk sementara kami tetap tinggal di Bahal Batu. Raja tua itu senang bahwa kami kembali dan pada hari-hari mendatang terpaksa kami ganti-gantian jaga pada malam hari. Kian hari kian mencemaskan desas-desus yang kami dengar. Lalu datanglah penginjil Nommensen, Püse, Simoneit, dan Israel. Sebagian besar Silindung berjanji untuk membela para penginjil dan melawan jika diserang. Para raja Bahal Batu pun menyatakan akan membela kami, dan Portaon Angin53 malahan mengatakan musuh terlebih dahulu harus membunuh kalau mau mengancam kami. Simoneit dan Israel tinggal di sini untuk membantu kami kalau-kalau pos diserang musuh.

Minggu-minggu yang akan datang penuh dengan kecemasan dan keresahan. Namun dalam kesengsaraan ini berkat Tuhan kami menikmati suasana hangat saling mendukung satu sama lain.

Sementara ini dan khusus untuk orang Kristen dan raja yang berpihak pada zending pemerintah menyediakan 50 bedil beserta amunisi serta menjamin adanya bantuan tentara karena pemerintah khawatir akan timbul musibah sebagaimana yang terjadi tahun 1859 di Kalimantan.54 Penginjil Nommensen menyuruh orang bertanya pada raja imam Singamangaraja mengapa ia memusuhi para penginjil, namun ia menyangkal memiliki sikap bermusuhan, demikian juga raja yang memanggil ulubalang itu.

 

[199] Namun demikian tetap ada surat dan berita dari Danau Toba ke Silindung dan Bahal Batu menyuruh kami untuk pergi sementara Singamangaraja menghasut orang untuk memusuhi kami. Di bawah rasa kecemasan tetapi percaya akan pertolongan Tuhan kami merayakan Natal dan memasuki Tahun Baru. Delapan hari setelah hari Tahun Baru para penginjil meninggalkan

kami. Desas-desus yang mencemaskan itu masih tetap tidak reda. Dari Barus pun datang berita perkara itu ke Sibolga sehingga Residen di Sibolga menyuruh beberapa raja untuk menyelidikinya. Awal Februari datang 80 tentara Belanda dengan seorang Komisaris (Kontrolir) untuk menyelidiki lebih lanjut perkara itu. Selama tentara berada di Silindung suasana menjadi tenang. Lalu datang surat dari Singamangaraja. Katanya kalau tentara pergi dia akan datang mengusir kami bersama dengan raja dari Bahal Batu. Raja-raja lain dari arah pegunungan secara umum memberitahu di pasar-pasar akan menyembilih kami. Lalu Residen mengirim surat kepada Singamangaraja menanyakan apa tujuan dia yang sebenarnya.

Dia membalas dia tidak keberatan dengan keberadaan zending,dia hanya ingin agar pasukan Belanda kembali, dan setelah itu ia bersedia untuk datang dan berbicara dengan kami.

Surat balasan Residen dirobeknya dan mau memakan pengantar surat itu, namun ada seorang raja menghalanginya.

Tanggal 15 Februari [1878] pasukan tiba di Bahal Batu bersama dengan penginjil dari Silindung. Selama dua hari keadaan tenang. Pada malam hari tanggal 16 Februari musuh menembaki kamp tentara dan meninggalkan tiga surat dari buluh yang mengumumkan perang terhadap kami dan bahwa mereka tidak tinggal diam sampai kepala-kepala Tuan Belanda itu ada di tangan mereka. Pada surat bambu itu mereka ikat ubi rambat yang ditusuk sebagai tanda akan menusuk serdadu dan tuan-tuan dan memakannya seperti ubi. [200]

 

Pada pagi hari tanggal 17 Tuan Kontrolir menjelaskan bahwa saya harus segera membawa istri saya ke Silindung karena dia tidak bisa tinggal di sini kalau perang sudah pecah. Raja tua hendak menghalanginya tetapi Kontrolir memerintah seorang perwira berpangkat letnan untuk mengawal kami sampai pertengahan jalan ke Silindung. Pada jam 10:00 kami berangkat dengan saudara Johannsen dan menjelang malam hari kami tiba, dalam hujan deras, di Pansur na Pitu.

Pada hari Selasa tanggal 19 saya sendirian kembali ke Bahal Batu. Tuan-tuan sudah tinggal di kamp dan mendesak kami agar meninggalkan pos zendingnya. Pada tanggal 20 Tuan Kontrolir menyuruh kami meninggalkan pos zending. Penginjil lain pun mendesak agar saya pergi dari sana sehingga saya kembali ke Silindung. Atas keputusan para penginjil dan atas permintaan saudara Simoneit yang baik hati maka saya menempati pos Simorangkir hingga penginjil Simoneit kembali dari Toba.56 Dia secara rela memutuskan mendampingi penginjil Püse hingga perang selesai dan saya bisa kembali ke Bahal Batu bersama istri saya.

Sementara itu pertempuran di Bahal Batu telah dimulai.Setiap hari musuh datang, kadang-kadang ribuan orang, tetapi setiap kali hanya sebagian dari ulubalang ikut berperang dan

selalu serangan mereka dapat ditangkis dengan berjatuhan korban di pihak mereka. Kebanyakan musuh berasal dari daerah di sekitar Danau Toba, dari Butar dan Lobu Siregar, digerakkan oleh Singamangaraja, seorang demagog yang menghasut dan mencelakakan rakyatnya. Seorang yang tertangkap dalam keadaan cedera langsung mau dibunuh dan dimakan oleh penduduk Bahal Batu, tetapi mereka dihalangi oleh Simoneit dan Püse dan beberapa orang serdadu. Orang itu dibawa ke pos zending dan kemudian ke huta [kampung] Portaon Angin lalu ia ditebus oleh keluarga dengan sekitar 300 Gulden57. Setelah kami tinggalkan pos zending dijaga oleh orang Bahal Batu.

 

Beberapa kali peluru masuk ke rumah pada malam hari,dua kali musuh berusaha untuk membakarnya, namun cukup cepat diketahui dan para pelaku diusir. Raja Angin Solobean menawarkan 300 dolar Spanyol58 yang kira-kira sama dengan 900 Gulden bagi barang siapa yang berhasil membakar pos zending. Hal itu dilakukan karena balas dendam untuk keponakannya yang gugur di Bahal Batu. Berkat pertolongan Allah pos zending hingga kini selamat, dan di Bahal Batu belum ada seorang serdadu pun yang gugur, yang cedera pun belum ada.

Pada 14 Maret Bapak Residen datang sendiri dari Sibolga bersama 250 tentara dan Kolonel Engels yang telah membuktikan keberaniannya di Aceh. Tanggal 15 Silindung dinyatakan

menjadi bagian dari wilayah Hindia-Belanda, dan pada tanggal 16 para Tuan beserta dengan pasukan berangkat ke Bahal Batu. Sekali lagi Tuan Residen berusaha untuk, bersama dengan

para penginjil, meyakinkan musuh untuk menyerah, akan tetapi usaha tersebut ditolak. Setelah itu Bahal Batu pun dinyatakan menjadi wilayah Hindia-Belanda dan para raja harus melakukan sumpah setia. Lalu pasukan berangkat ke Butar dengan para penginjil sebagai penerjemah. Orang Butar pun disuruh menyerah bila mau selamat. Setelah penawaran itu mereka tolak maka tentara menyerbu kelima kampung dan membakarnya. Penduduknya tidak ditangkap tetapi ada beberapa

orang yang mati dan cedera di antaranya. Di pihak tentara ada seorang bintara yang luka berat dan beberapa hari kemudian meninggal di Bahal Batu. Kampung-kampung lain di Butar lalu menyerah; 11 raja ditangkap dan dibawa ke Bahal Batu, dan masing-masing diwajibkan membayar pampasan perang sebanyak 200–300 dolar Spanyol atau 600–900 Gulden.

Kini mereka sudah dilepaskan. Atas permintaan para penginjil maka Butar diperlakukan dengan lunak sehingga tidak terlalu banyak kampung yang dibakar. Sayang sekali raja yang dulu pernah menyelamatkan jiwa para penginjil yang ditahan di Butar kini menjadi pemimpin musuh.

 

Atas permintaan penginjil [202] kampungnya tidak dibakar,hal mana semoga akan membuat dia merenungkan peristiwa yang berlalu.

Semua perundingan dengan Lobu Siregar gagal, dan tentara yang masuk ke situ diserang. Lima kampung dibakar kecuali kampung seorang raja yang bersikap netral. Raja-raja yang lain semua harus membayar pampasan perang. Semoga Tuhan melimpahkan berkatNya kepada rakyat supaya mereka mau menyerah saja dan tidak menuruti pemimpinnya yang hanya mencelakakan mereka. Bagaimana pun mereka akan kalah. Barangkali seluruh Toba sekarang bisa menjadi wilayah Hindia-Belanda. Residen telah memperoleh izin untuk aneksasi dari Batavia. Bagaimana pun jadinya, zending Toba kini berada dalam krisis berat, dan bagaimana akibat perang yang tragis ini untuk zending kita masih belum diketahui. Semoga Tuhan senantiasa menolong dan memberkati kita demi berhasilnya pembangunan kerajaannya.

Bersambung————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s