Peran Zending dalam Perang Toba (2)

Berdasarkan Laporan I.L. Nommensen dan penginjil-RMG lain oleh Uli Kozok

Nommensen dan penginjil RMG lainnya bukan hanya anak zaman, tetapi juga dipengaruhi oleh aliran teologi yang dominan di seminaris RMG. Makalah ini hanya akan menyentuh saja kerangka teologi yang dimiliki oleh para pemimpin dan guru seminaris RMG, dan pembaca yang ingin mengetahuinya secara lebih spesifik dianjurkan membaca artikel Johann (Hans) Angerler berjudul Mission, Kolonialismus, dan Missionierte: Über die deutsche Batakmission in Sumatra.

Di antara guru seminaris ada dua tokoh yang paling berpengaruh:

G.L. von Rohden (1815–1889) dan F. Fabri (1824–1891). Menurut von Rohden warna kulit suatu bangsa memperlihatkan tingkat dekadensinya. Makin hitam warna kulit

makin parah kemerosotan bangsa itu baik secara moral maupun intelek. (Hans Angerler. Mission, Kolonialismus, dan Missionierte: Über die deutsche Batakmission in Sumatra. Beiträge zur historischenSozialkunde 2. 1993 53–61. Lihat juga Lothar Schreiner, Adat und Evangelium: zur Bedeutung der altvölkischen Lebensordnungen für

Kirche und Mission unter den Batak in Nordsumatra, Gütersloh: Mohn 1972, serta G. Menzel, Aus 150 Jahren Missionsgeschichte: die Rheinische Mission. Wuppertal: Verlag der Vereinigten Evangelischen Mission 1978:209–14)

Menurutnya bangsa yang dipilih Tuhan adalah bangsa Israel, tetapi setelah Yesus Kristus datang ke bumi maka pusat sejarah dunia berpindah, pertama ke barat (Roma), lalu ke utara (Jerman). Bangsa Jerman dan bangsa Germania lain (Belanda, Skandinavia dan Inggris) dilihatnya sebagai bangsa yang unggul yang dikelilingi bangsa yang lebih rendah seperti Perancis dan Rusia yang hendak menghancurkannya dengan membawa “bibit setan yang tumbuh subur di negerinya” untuk memusnahkan bangsa Jerman. Ideologi itu dibawa para penginjil ke Tanah Batak. Di situ pun bangsa terpilih (Batak) dikelilingi oleh bangsa Melayu yang hina, berdosa, dan berada dalam pengaruh “kekelaman agama Islam yang mengerikan” yang hendak menghancurkan bangsa Batak. Tujuan zending ialah untuk “mengubah kanibal yang kasar menjadi manusia bermartabat, mengubah gerombolan pembunuh berdarah dingin menjadi paroki Kristen, mengubah orang liar yang malas, kotor, tak senonoh dan keji menjadi abdi Tuhan yang beriman, rendah hati, dan penuh kasih sayang.” Von Rohden

menjadi guru sejarah, geografi, antropologi, dan sejarah agama, dan mulai 1884 hingga 1889 ia menggantikan Fabri sebagai Direktur RMG. (Setelah 27 tahun mengabdi pada RMG Fabri, yang mempra-2 karsai zending Batak, memutuskan menjadi penulis dan sepenuhnya mengabdikan diri kepada gerakan kolonial Jerman.)

Menurut Fabri, orang Batak merupakan bangsa yang, bila dibandingkan dengan bangsa lain di Indonesia, relatif lebih unggul, dan jelas tidak serendah bangsa Melayu. Fabri malahan melihat adanya persamaan dengan ras Eropa:

Dibandingkan orang Melayu, mereka [orang Batak,UK] jauh lebih mirip dengan orang Indo-Germania, baik bentuk kepala, tubuh, dan warna kulitnya.

Warna kulitnya sedemikian coklat muda sehingga malahan ada yang pipinya kemerahmerahan.Rambutnya juga lebih lembut dan lebih padat daripada rambut orang Melayu, dan kadang-kadang kecokelat-cokelatan. Tubuhnya tegap dan berotot. Tampaknya mereka merupakan ras menengah antara ras Eropa dan Melayu.

Fabri yang menjadi Direktur RMG dari tahun 1857–1884 memiliki latar belakang ideologi yang mirip dengan von Rohden. Ia juga percaya pada keunggulan ras putih. Peristiwa yang membuat ras putih unggul, menurutnya, adalah pembangunan menara Babel yang melambangkan keangkuhan dan kesombongan manusia. Pembangunan menara ini diprakarsai oleh keturunan Ham maka mereka memikul dosa yang terberat

sementara keturunan Yafet yang paling sedikit berdosa.

Menurut buku Genesis maka Sem, Ham dan Yafet, ketiga Peran Zending dalam Perang Toba anak nabi Nuh, menjadi nenek moyang semua orang di dunia.

Dalam Genesis 9:20-28 anak Ham, Kanaan, dikutuk nabi Nuh: “Terkutuklah Kanaan! Dia akan menjadi budak terhina bagi saudara-saudaranya. Pujilah Tuhan, Allah Sem! Kanaan akan menjadi budak Sem. Semoga Allah menambahkan berkat kepada Yafet dengan meluaskan tempat kediamannya. Semoga keturunannya tinggal bersama-sama dengan keturunan Sem. Kanaan akan menjadi budak Yafet.”

Menurut Genesis 10 maka anak-cucu Yafet menjadi “leluhur bangsa-bangsa yang tinggal di sepanjang pantai dan di pulau-pulau” (Eropa), Sem menjadi leluhur bangsa Ibrani, sementara keturunan keempat anak Ham, yaitu Kus, Mesir, Libia dan Kanaan, tersebar paling jauh.

Dengan demikian, dunia ini terbagi dalam tiga kelompok utama: Eropa atau ras putih (keturunan Yafet), Bangsa Israel (keturunan Sem), sementara semua bangsa yang lain termasuk keturunan Ham yang ditakdirkan menjadi budak keturunan Yafet.

Dengan demikian, menurut ideologi para teolog RMG, maka layak keturunan Yafet (orang Eropa) menjajah tanah keturunan Ham dan membuat penduduknya menjadi budaknya.

Keturunan Ham, terkutuk karena Ham melihat aurat ayahnya,dan berdosa karena mau membangun menara yang bisa mencapai langit – demikianlah ideologi Fabri yang memengaruhi para penginjil termasuk Nommensen – dihukum Tuhan dengan membuat keturunannya menjadi rusak, kekurangan dalam semua hal, rupa, warna kulit, dan intelek. Jadi bangsa putih berhak untuk menjajah dan mengeksploitasi bangsa berwarna. Penjajahan malah merupakan tindakan manusiawi untuk memajukan bangsa berkulit hitam. Salah satu cara untuk mengangkat martabat bangsa terkutuk itu adalah dengan mengkristenkan mereka supaya mereka menjadi lebih beradab.Akan tetapi, kendatipun mereka sudah beragama Kristen, mereka tetap lebih rendah daripada ras Eropa yang keturunan Yafet.

Dengan demikian tidak mengherankan bila para penginjil merasa lebih dekat kepada Belanda daripada kepada orang Batak.

Sidjabat dan pengarang lain sering menekankan adanya jarak antara penginjil RMG dan pihak Belanda karena bangsa mereka berbeda. Para penginjil RMG berbangsa Jerman sementara pemerintah kolonial dijalankan oleh bangsa Belanda.

Dengan demikian, begitu kesimpulannya, penjajahan bukan kepentingan para penginjil. Hal itu keliru karena sebagaimana dijelaskan di atas penjajahan bangsa putih terhadap bangsa yang berwarna adalah hal yang penting demi mengangkat

martabat bangsa keturunan Ham. Pihak penginjil RMG sama sekali tidak anti penjajahan melainkan mendukungnya dengan penuh hati.

Kita juga bisa melihat dari laporan para penginjil bahwa mereka tidak begitu membedakan antara Belanda dan Jerman dan lebih menekankan kepentingan bersama mereka dengan menggunakan istilah Eropa daripada Belanda:

Hal yang paling penting adalah bahwa Toba keluar dari isolasinya, terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa sehingga dengan sangat mudah zending kita bisa masuk. Memang ada kemungkinan bahwa orang Toba membenci orang Eropa setelah Belanda mengalahkan dan membakar kampung mereka. Namun hal itu tidak terjadi.

Perlu juga diingatkan bahwa orang Belanda waktu itu masih menamakan bahasanya ‘Nederduits’ (Jerman Rendah ‘Rendah’ merujuk pada kenyataan bahwa daerahnya datar tidak bergunung, bukan pada status bahasa. ) sementara Nommensen sendiri penutur asli bahasa Frisia yang merupakan salah satu dialek Jerman Rendah yang sangat dekat dengan bahasa Belanda.

Namun yang lebih penting lagi ialah kenyataan bahwa menurut ideologi rasis yang dianut di kalangan RMG, Belanda sebagai salah satu bangsa Germania merupakan bangsa yang sama unggul dengan bangsa Jerman.

Sebagaimana jauh para penginjil mengidentifikasikan diri dengan para penjajah tampak pada kutipan berikut:

Untuk menilai benar salahnya penaklukan Toba yang dilakukan dengan begitu cepat dan dengan sangat sedikit biaya maupun jumlah korban, maka perlu diperhatikan butir-butir berikut: […]

 

Rupanya bagi zending jumlah korban di pihak musuh mereka (pejuang Singamangaraja) tidak perlu dihitung. Tidak diketahui dengan pasti berapa banyak orang meninggal di pihak pejuang Singamangaraja dan sekutunya serta di kalangan penduduk sipil. Paling tidak puluhan namun lebih mungkin sampai beberapa ratus korban yang tewas belum lagi yang cedera. Jumlah yang tidak sedikit, tetapi yang diungkapkan zending dalam konteks ini malahan biaya perang.

Kedekatan Nommensen dan para penginjil lain dengan penjajah sebenarnya tidak mengherankan mengingat pendidikan yang mereka peroleh di RMG. Fabri, Direktur RMG, menekankan agar para penginjil senantiasa menjalin kerja sama yang erat dengan pemerintah kolonial karena tujuan zending dan pemerintahan kolonial pada hakikatnya sama.

Kronologi Perang Toba I

 Berikut ini urutan peristiwa perang Toba sebagaimana direkonstruksi dari laporan penginjil Nommensen dan Metzler.

Tanggal-tanggal setelah 5 Mei tidak pasti karena tidak disebut berapa lama pasukan Belanda beristirahat di Paranginan.

Akhir 1877 Desas-desus Aceh akan bersekutu dengan Toba
17 Des 1877 Penginjil di Bahal Batu menerima surat dari Silindung bahwa para ulubalang sudah tiba di Bangkara
Jan. 1878 Utusan Singamangaraja datang mengancam misionaris dan orang Kristen
Akhir Jan.􀁢78 Para Penginjil minta agar Belanda mengirim Pasukannya
1 Feb 1878 Pasukan pertama di bawah pimpinan Kapten Scheltens bersama dengan Kontrolir Hoevel menuju Pearaja
6 Feb 1878 Pasukan dengan 80 tentara dan seorang Kontrolir tiba di Pearaja
15 Feb 1878 Pasukan tiba di Bahal Batu bersama dengan penginjil dari Silindung
16 Feb 1878 Pengumuman perang dari pihak SSM
17 Feb 1878 Metzler disuruh membawa istrinya ke Silindung. Ibu Metzler diantar suaminya dan Johannsen ke Pansur na Pitu
19 Feb 1878 Metzler kembali ke Bahal Batu, tetapi tanggal
20 Feb 1878 kembali lagi ke Silindung
Feb. 1878 Pasukan Singamangaraja menyerang Bahal Batu
1 Maret 􀁢78 Pasukan tambahan berangkat dari Sibolga
14 Maret 􀁢78 Residen Boyle datang bersama 250 tentara dan Kolonel Engels dari Sibolga
15 Maret 1878 Silindung dinyatakan menjadi bagian dari wilayah Hindia-Belanda
16 Maret 1878 Pasukan berangkat ke Bahal Batu. Bahal Batu pun dinyatakan menjadi wilayah Hindia-Belanda
17–20 Maret Butar, Lobu Siregar dan Naga Saribu diserang
Maret Pasukan tambahan 300 tentara dan 100 narapidana diberangkatkan
30 April 1878 Ekspedisi militer untuk menumpaskan pasukan Singamangaraja dimulai. Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda.Lintong ni Huta ditaklukkan
1 Mei 1878 Bangkara diserang
2 Mei 1878 Kampung-kampung di sekitar Bangkara diserang
3 Mei 1878 Raja-raja di Bangkara dipaksa melakukan sumpah setia mengakui kedaulatan Belanda
4 Mei 1878 Pasukan maju ke Paranginan
5 Mei 1878 Pasukan beristirahat selama beberapa hari di Paranginan
8 Mei 1878 Huta Ginjang, Meat dan Gugur ditaklukkan. Pasukan beristirahat selama beberapa hari di Gurgur
11 Mei 1878 Pasukan menaklukkan Lintong ni Huta Pohan,Panghodia dan Tara Bunga.
12 Mei 1878 Pasukan kembali ke Bahal Batu melalui Onan Geang-Geang, Pintu Bosi, Parik Sabungan dan Lobu Siregar
akhir Mei Nommensen membantu Residen di Bahal Batu
  Benteng untuk 80 tentara dibangun di Sipoholon
27 Desember1878

 

Nommensen dan Simoneit menerima penghargaan dari pemerintah Belanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s