MAHKUTA (SISINGAMANGARAJA I – Manghuntal )

Pada tahun 1540 M, Mahkuta atau Manghuntal yang menjadi Panglima di Kerajaan
Hatorusan yang berpusat di Barus dan Singkel–ditugaskan menumpas pemberontakan di pedalaman Batak, setelah sebelumnya berhasil mengusir Portugis dari perairan Singkel, memerintah di tanah Batak sebagai singamangaraja I. Kedaulatannya ditransfer oleh Raja Uti VII yang kehilangan kekuasaannya.
Pemerintahan Sisingamangaraja I, hanya berlangsung sepuluh tahun. Sebelum putra mahkotanya, Manjolong, berumur dewasa, masih 12 tahun, Manghuntal dikabarkan menghilang dan tidak pernah kembali lagi.

image
Orang-orang Bakkara dan lingkungan Istana percaya bahwa Sisingamangaraja
menghilang diambil Mulajadi Nabolon ke langit atau menganggapnya sebagai
kejadian gaib. Manjolong akhirnya diangkat menjadi Sisingamangaraja II.
Belakangan dari kitab-kitab kuno bangsa Batak Karo diketahui bahwa
Sisingamangaraja I ternyata berada di tanah Karo paska menghilangnya raja dari
Bakkara. Tidak disebutkan sebab-sebab migrasi Sisingamangaraja. Apakah dia
frustasi dengan keadaan rakyatnya yang terus bertikai dan bertengkar, walau
sudah dibujuk untuk damai dengan benda-benda pusaka Raja-raja Uti, tidak
diketahui dengan pasti.

Tapi melihat riwayat-riwayat budi pekerti sosok Sisingamangaraja I yang anti-
perbudakan, anti-rentenir sehingga selalu membayar utang para rakyat yang
terlilit hutang dan lain sebagainya, membuatnya banyak memiliki musuh dari
elit-elit yang suka mengeksploitasi rakyat. Permusuhan itu, tidak saja dari
lingkungan istana tapi bahkan dari kerabatnya sendiri, misalnya namborunya, yang
tidak menyukai kebijakannya tersebut.

 image

Paska kepindahannya ke tanah Karo salah satu cucunya yang bernama Guru Patimpus mendirikan huta yang sekarang menjadi Ibukota Provinsi Sumatera Utara.
Nama medan merupakan sebuah desa yang dibangun oleh Guru Patimpus. Desa tersebut yang berfungsi sebagai ‘onan’ tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai  penjuru untuk tujuan ekonomi, politik dan sosial. Onan itu berada di sebuah lapangan besar di mana diatasnya keramaian orang melakukan transaksi.
Orang-orang Arab yang melihat peristiwa itu menyebut lapangan tersebut sebagai
Maidan, lapangan luas, yang akhirnya menjadi Medan dalam lidah melayu.
Nama Medan dikenal berbeda-beda dalam sejarah, sesuai dengan perubahan penguasa atas kawasan ini. Kesultanan Haru, terdiri dari orang Karo yang menjadi prajurit Aceh, pernah menguasasinya dan medan lebih dikenal dengan Haru. Dominasi orang Haru diruntuhkan oleh orang Aceh dan mengangkat orang melayu menjadi pemimpin di daerah tersebut. Maka kemudian dikenal juga nama Ghuri dan Deli di tangan orang Melayu yang diangkat oleh Aceh dan dipengaruhi oleh budaya India Dehli sekarang dikenal Delhi.
Menurut riwayat Hamparan Perak salah seorang putera dari Sisingamangaraja
bernama Tuan Si Raja Hita mempunyai seorang anak bernama Guru Patimpus pergi image
merantau ke beberapa tempat di Tanah Karo dan merajakan anak-anaknya di
kampung-kampung: Kuluhu, Paropa, Batu, Liang Tanah, Tongging, Aji Jahe, Batu
Karang, Purbaji, dan Durian Kerajaan. Kemudian Guru Patimpus turun ke Sungai
Sikambing dan bertemu dengan Datuk Kota Bangun.
Menurut Datuk Bueng yang tinggal di Jl. Kertas Medan dia mempunyai dokumen tua
dalam bentuk lempeng-lempeng. Menurut trombo yang ada padanya Raja-raja 12 Kuta (Hamparan Perak) adalah :
Dinasti Sisingamangaraja I, setelah menghilang dari Bakkara.
1. Sisingamangaraja, bernama aseli Mahkuta alias Manghuntal. Lahir di Bakkara,
dibesarkan di Istana Raja Uti VII (Pasaribu Hatorusan) di Singkel, menjadi raja
Batak di Bakkara paska menumpas pemberontakan memerintah di tahun 1540-1550 M. Mempunyai dua anak, yang pertama adalah Manjolong, menjadi Sisingamangaraja II di Bakkaara dengan gelar Datu Tinaruan atau Ompu Raja Tinaruan memerintah 1550 s.d 1595 dan yang kedua adalah:

2. Tuan Siraja Hita, Di sana ia memperoleh tiga orang anak. Anak yang nomor dua
menjadi raja di Kerajaan Pekan. Yang bungsu menjadi raja di Kerajaan Balige,
Toba dan yang tertua bernama Patimpus alias Guru Patimpus.

Abang Tuan Si Raja Hita.adalah Raja Sisingamangaraja II. Guru Patimpus memiliki nama lengkap Guru Patimpus Sembiring Pelawi (lahir di Aji Jahe, salah satu kampung di Tanah Karo Simalem yang dingin, sejuk, nyaman, dengan angin pegunungannya, hidup sekitar akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17). Yap, Guru Patimpus berasal dari dataran tinggi karo. Seorang Batak Karo.

Walaupun di beberapa tulisan disebut dia bermarga Sinambela (karena masih keturunan Sisingamangaraja yang bermarga Sinambela), namun resminya dia diakui sebagai marga Sembiring. Mungkin Sinambela di Karo masuk kelompok marga Sembiring. Guru Patimpus Sembiring Pelawi memang adalah orang yang dikenal sebagai pendiri kota Medan, ibukota Propinsi Sumatra Utara, Indonesia, yang berkembang dari sebuah kampung bernama Kampung Medan Putri yang berdiri 1 Juli 1590.

3. Guru Patimpus, masuk Islam dan pada tanggal 1 Juli 1590, mendirikan kota
Medan. Puteranya adalah, (1) Benara, Raja di Benara (2) Kuluhu, Raja di Keluhu
(3) Batu, pendiri kerajaan Batu, (4) Salahan, Raja di Salahan (5) Paropa, Raja
di Paropa (6) Liang, Raja di Liang Tanah (7) Seorang gadis yang menikah dengan
Raja Tangging (Tingging) (8) Janda yang menetap di Aji Jahe (9) Si Gelit
(Bagelit), Raja di Kerajaan Karo Islam Sukapiring, daerah antara Medan sampai ke
pegunungan Karo (10) Raja Aji, yang menjadi perbapaan Perbaji, (11) Raja Hita
yang menjadi raja di Durian Kerajaan, Langkat Hulu (12) Hafidz Tua dengan
panggilannya Kolok, tidak menjadi raja tapi ulama dan Hafidz Muda dengan
panggilannya Kecik yang menjadi pengganti Guru Patimpus di Kerajaan Medan.

4. Raja Hafidz Muda

image

5. Raja Muhammadsyah putera Hafidz Muda, makamnya terletak di dekat makam
puteranya Masannah, daerah Petisah Medan. Mempunyai tiga putera. Yang pertama
adalah Masannah yang dikenal dengan Datuk Saudagar, dia menetap di Pulau Bening dan keturunannya berada di sana. Makamnya di samping makam ayahnya Muhammadsyah yang disebut ‘Makam Melintang’, anak yang kedua adalah Pangeran Ahmad yang keturunanya menetap di Petisah, Medan dan yang ketiga adalah Raja Mahmud yang menjadi pengganti Raja Muhammadsyah. Saat ini pusat kerajaan yang meliputi 2/3 dari kerajaan Patimpus dipindahkan ke Terjuan. Dia dimakamkan di sana. Raja Muhammadsyah memperlua kerajaan ke kawasan baru yang bernama Kuala Bekala dan Terjun. Kedua daerah ini kemudian disebut Marhom Muhammadsyah Darat.

6. Raja Mahmud putera Muhammadsyah, mempunyai dua putera mahkota. Pertama
Pangeran Ali dan yang kedua Pangeran Zainal yang memilih tinggal di Klambir
Tunggal dan kuburannya ada di sana.

7. Raja Ali putera Mahmud, memindahkan ibukota ke kawasan Buluh Cina. Kerajaan
mulai makmur dengan perdagangan. Penghasilan kerajaan berasal dari ekspor lada besar-besaran ke Penang/Melaka. Mempunyai satu putera mahkota, Banu Hasyim dan satu puteri, Bujang Semba yang menikah dengan Sultan Panglima Mangedar Alam dari Kesultanan Deli. Masuknya pengaruh kekuatan Aceh dan orang-orang melayu yang berciri khas India Dehli. Kesultanan Deli sendiri didirikan oleh Sri Paduka Gocah Pahlawan Laksamana Khoja Bintan.

8. Raja Banu Hasyim putera Ali, menikah dengan puteri Manyak, kakak dari Datuk
Sunggal Amar Laut. Dia memperluas kerajaan sampai ke kawasan Kampung Buluh.
Mempunyai tiga anak. Pertama adalah Sultan Sri Ahmad, yang kedua adalah Sri
Kemala, puteri yang menikah dengan Sultan Osman I dari Kesultanan Deli dan yang
ketiga adalah Sri Hanum, seorang puteri yang menikah dengan Pangeran Kesultanan Langkat, Musa.

9. Sultan Sri Ahmad putera Banu Hasyim. Pusat kerajaan di pindahkan ke Pangkalan
Buluh. Kerajaan Karo Islam mulai tergeser karena menguatnya Kesultanan Deli yang didukung oleh pihak Imperium Kesultanan Aceh. Sultan pernah menerima tamu
bernama John Anderson pada tahun 1823. Kerajaan Islam Karo akhirnya takluk ke
Kesultanan Deli dan Sultan akhirnya masuk menjadi pembesar Kesultanan Deli yang bergelar Datuk Panglima Setia Raja Wazir XII-Kota. Pemerintahannya di bawah
Kesultanan Deli akhirnya dipindahkan ke Hamparan Perak. Dia meninggal dalam usia 119 tahun

10. Datuk Adil
11. Datuk Gombak
12. Datuk Hafiz Harberhan
13. Datuk Syariful Azas Haberham. Riwayat Hamparan Perak ini pernah disalin ke
dalam bahasa Belanda dalam "Nota Over De Landsgrooten van Deli", juga dalam
"Begraafplaatsrapport Gementee Medan 1928"
Berdasarkan bahan-bahan dari Panitia Sejarah Kota Medan (1972) termasuk
Landschap Urung XII Kuta, ini dapat dilihat dari trombo yang disalin dalam
tulisan Batak Karo yang ditulis di atas kulit-kulit Alin. Trombo ini mengisahkan
Guru Patimpus lahir di Aji Jahei. Dia mendengar kabar ada seorang datang dari
Jawi (bahasa Jawi bahasa Pasai Aceh, kemudian dikenal dengan bahasa Melayu
tulisan Arab. Orang yang datang dari Jawi itu adalah orang dari Pasai keturunan
Said yang berdiam di kota Bangun. Orang itu sangat dihormati penduduk di Kota
Bangun kemudian diangkat menjadi Datuk Kota Bangun yang dikenal sangat tinggi
ilmunya. Banyak sekali perbuatannya yang dinilai ajaib-ajaib.
Guru Patimpus sangat ingin berjumpa dengan Datuk Kota Bangun untuk mengadu
kekuatan ilmunya. Guru Patimpus beserta rakyatnya turun melalui Sungai Babura,
akhirnya sampailah di Kuala Sungai Sikambing. Di tempat ini Guru Patimpus
tinggal selama 3 bulan, kemudian pergi ke Kota Bangun untuk menjumpai Datok Kota Bangun. Konon ceritanya dalam mengadu kekuatan ilmu, siapa yang kalah harus mengikuti yang memang. Dalam adu kekuatan ini, berkat bantuan Allah SWT Guru Patimpus kalah dan dia memeluk agama Islam, sebelumnya beragama Perbegu.
Dia belajar agama Islam dari Datuk Kota Bangun. Dia selalu pergi dan kembali ke
Kuala Sungai Sikambing pergi ke gunung dan ke Kota Bangun melewati Pulo Berayan yang waktu itu di bawah kekuasaan Raja Marga Tarigan keturunan Panglima Hali.
Dalam persinggahan di Pulo Berayan, rupanya Guru Patimpus terpikat hatinya
kepada puteri Raja Pulo Berayan yang cantik. Akhirnya kawin dengan puteri Raja
Pulau Berayan itu, kemudian mereka pindah dan membuka hutan kemudian menjadi Kampung Medan. Setelah menikah, Patimpus dan istrinya membuka kawasan hutan
antara Sungai Deli dan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan.
Tanggal kejadian ini biasanya disebut sebagai 1 Juli 1590, yang kini diperingati
sebagai hari jadi kota Medan.
Putera Guru Patimpus Hafal Al-Qur’an Dari perkawinan dengan puteri Raja Pulo Berayan lahirlah dua orang anak lelaki, seorang bernama Kolok dan seorang lagi bernama Kecik. Kedua putera Guru Patimpus ini pergi ke Aceh untuk belajar agama Islam. Kedua putera Guru Patimpus ini hafal Al Qur’an, karena itu Raja Aceh memberi nama untuk yang tua Kolok Hafiz, dan adiknya Kecik Hafiz.

Menurut trombo yang ditulis dalam bahasa Batak Karo di atas kulit Alin itu,
Hafiz Muda kemudian menggantikan orang tuanya Guru Patimpus, menjadi Raja XII
Kuta. Putera Guru Patimpus dari ibu yang lain bernama Bagelit turun dari gunung
menuntut hak dari ayahandanya yaitu daerah XII Kuta. Setelah puteranya Bagelit
memeluk agama Islam daerah XII Kuta yang batasnya dari laut sampai ke gunung
dibagi dua. Kepada Bagelit diberi kekuasaan dari Kampung Medan sampai ke gunung.
Akhirnya kekuasaan Bagelit dikenal dengan Orung Sukapiring. Sedangkan Hafiz Muda tetap menjadi Raja XII Kuta berkedudukan di Kampung Medan. Waktu itu Medan adalah sekitar Jalan Sungai Deli sampai Sei Sikambing (Petisah Kampung Silalas).
Guru Patimpus dan puteranya Hafiz Muda yang menjadikan Kampung Medan sebagai pusat pemerintahannya.
Menurut trombo dan riwayat Hamparan Perak (XII Kuta) Guru Patimpus belajar agama Islam pada Datuk Kota Bangun. Menurut catatan sejarah Datuk Kota Bangun adalah seorang ulama besar, tapi tidak disebut namanya. Apakah Datuk Kota Bangun itu adalah Imam Siddik bin Abdullah yang meninggal 22 Juni 1590? Pertanyaan ini barang kali ahli sejarah dapat menjawabnya. Di masa dulu ulama-ulama besar lebih dikenal dengan menyebut nama tempat ulama itu berdomisili.
Menurut Prof. J.P. Moquette dan Tengku Luckman Sinar, SH, makam Imam Siddik bin Abdullah terdapat di Perkebunan Klumpang. Pada batu nisannya tertulis ulama dari
Aceh Imam Siddik bin Abdullah meninggal 23 Syakban 998H (22 Juni 1590)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s